Menilik Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong yang Mengagumkan

Kota Semarang menjadi sentral Jawa Tengah. Hiruk pikuk masyarakat membuatnya penuh kreasi mengagumkan. Selain Simpang Lima, dan Lawang Sewu. Kota ini menyimpan sejarah yang luar biasa. Dimana sejarah ini tidak hanya membahas mengenai peninggalan purba. Melainkan tentang bagaimana setiap manusia patut menghargai satu dengan yang lain. Bahkan tingkat religi begitu terlihat pada bagian bangunan. Tepat, inilah sejarah Kelenteng Sam Poo Kong yang hingga sekarang terus menarik perhatian wisatawan luar dan dalam negeri.

Kelenteng ini mempunyai fungsi tidak jauh berbeda dari kelenteng pada umumnya. Dimana tempat tersebut dijadikan sebagai tempat sembahyang umat Konghucu. Ornamen mewah dengan dominasi warna merah, kuning, sekaligus hijau. Patung besar Laksamana Cheng Ho berdiri di depan kelenteng seakan memberi sambutan untuk tiap pengunjung. Ketika menenggok tulisan sejarah Anda bakal melihat bagaimana kelenteng ini mengandung nilai spiritual yang tak terbayangkan. Bagaimana tidak? pembangunannya didasari oleh kebutuhan tempat istirahat karena pasukan Zheng He yang mendadak sakit.

Catatan para ahli menunjukan bagaimana keindahan saling menghargai. Dimana Laksamana Cheng Hu yang diketahui sebagai penginut islam. Memimpin pasukan yang tidak semuanya mempunyai kepercayaan sama. Mendengarnya saja sudah mampu terasa tentang kepribadian sang pemimpin. Rasionalnya, tidak mungkin seorang pemimpin akan diikuti oleh pengikut. Ketika ia tak mempunyai sikap bijaksana. Apalagi disini dia harus tetap bersikap adil meski para pengikut bukan golongan dari kepercayaan yang ia anut. Singkat cerita, Laksamana Cheng Hu berniat membuat masjid.

Beberapa sumber menulis bahwa awalnya bangunan itu berbentuk gedung batu yang trletak di Simongan Barat Daya Kota Semarang. Setelah berisitarahat dalam waktu cukup lama. Zheng He dan sebagian pengikut meninggalkan Jawa untuk melanjutkan perjalanan. Namun, beberapa pasukan memilih untuk tinggal dan bergabung dengan masyarakat setempat. Disinilah proses percampuran budaya terjadi karena pernikahan.

Sekarang  Sampo Kong bukan sekedar peninggalan sejarah penuh nilai islami. Melainkan bentuk penghormatan masyarakat atas jasa Laksamana Cheng Hu. Tidak heran jika wisatawan terus berdatang. Baik dengan niat sembahyang ataupun sekedar menikmati sensasi religi yang kuat disetiap sudut kelenteng.

Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong yang Menyejukan

sejarah Kelenteng Sam Po Kong

Menurut beberapa sumber, Laksama Cheng Hu (Zheng He) melakukan pelayaran melalui Lautan Jawa. Namun, saat ditengah perjalanan para awak kapal jatuh sakit. Kemudian dengan perintah Zheng He kapal menepi menuju  Pantai Utara Semarang. Guna berlindung sekaligus membangun sebuah masjid. Banyak sumber yang kemudian menyebut bahwa disini yang sekarang difungsikan kelenteng.  Menurut cerita, Laksamana Cheng Hu akhirnya harus meninggalkan awak kapal yang sakit karena kewajibanya melanjutkan pelayaran.

Nah, mereka yang tinggal akhirnya bergabung dengan warga sekitar. Bahkan banyak diantara mereka yang akhirnya menikah. Mereka kerap menceritakan mengenai sosok Cheng Hu yang dinilai pemberani serta bijaksana. Cerita tersebut terus direspon baik oleh masyarakat. Hingga akhirnya mereka bersama-sama membuat lambang penghormatan untuknya di salah satu gua (Gedung Batu). Simbol untuk mengenang Laksamana Cheng Ho itu kemudian disempurnakan menjadi Kelenteng Sam Poo Kong yang menyejukan. Meskipun menjadi tempat ibadah untuk umat Tridharma.

Tetapi, masih banyak orang Islam yang berdatangan untuk berziarah ke makam Kyai Ong Keng Ho. Selain itu, sejarah Kelenteng Sam Poo Kong juga menarikĀ  wisatawan untuk berdatangan. Bagi Anda yang ingin merasakan keindahan serta menilik sejarah kelenteng yang berbau islami. Tidak perlu khawatir karena rute menuju lokasi tidak terlalu sulit. Dari kawasan Simpang Lima Semarang. Anda ambil arah Jalan Pahlawan dan lanjut perempatan Polda Jawa Tengah. Setelah itu, melalui Jl. Veteran ke arah RSUD Dr. Kariadi.

Berikutnya, Kelenteng Sam Poo Kong berada tepat disebelah kiri Rumah sakit tersebut. Sedangkan tiket masuk cukup terjangkau. Anda hanya perlu mengelaurkan Rp.28.000 untuk mengenang dan belajar semua tentang bentuk penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho. Tepat, meskipun berbeda keyakinan. Umat Kong Hu Cu mempercayai bahwa orang yang telah mati mampu memberikan pertolongan. Sedangkan inti dari bangunan kelenteng adalah Goa Batu. Dimana disini dipercayai sebagai tempat mendarat Laksamana Zheng He dan pasukan untuk pertama kali.

Daya Tarik Kelenteng Sam Poo Kong

sejarah Kelenteng Sam Po Kong

Ketika mendengar kelenteng membuat pikiran langsung menuju pada tempat sembahnyang umat Konghucu. Namun, uniknya disini Anda bakal melihat dimana 3 kepercayaan secara bersamaan menggunakannya. Sehingga Kelenteng Sam Poo Kong sering disebut sebagai tempat ibadah Umat Tridharma. Keunikan lain ialah sejarah Kelenteng Sam Poo Kong yang penuh nilai saling menghargai antar agama. Dominasi warna merah memiliki arti yang mampu menyentuh sisi sentimentil siapapun. Termasuk Umat Islam yang sering melakukan ziarah ke makam Kyai Ong Kye Ho. Dari perjalanan sejarah ini Anda bakal mendapat pelajaran legendaris yang patut untuk diteruskan.